“Artificial Intelligence”, Dibutuhkan dan Ditakutkan

Artificial Intelligence  (AI) merupakan kecerdasan yang  timbul dari mesin atau komputer menjadi obsesi manusia dalam 100 hingga 200 tahun kebelakang. Dewasa ini, dengan semakin bergeraknya peradaban menuju era digital, AI bukan lagi sesuatu yang hanya ada diangan – angan. Reformasi digital telah membuat AI menjadi mungkin dan terwujud sesuai cita-cita yang luhur, membantu kerja umat manusia. Namun, lebih dari itu seiring dengan semaki cerdasnya AI, mungkin saja mereka kelak juga menggantikan umat manusia dalam banyak hal.

Yang dibutuhkan dari AI, AI akan sangat membantu mengerjakan pekerjaan administratif, terdapat survey yang menyebutkan bahwa setiap manajer di perusahaan setidaknya menghabiskan 54% waktunya untuk hal-hal yang administratif, sedangkan sisanya 30% untuk memecahkan masalah dan berkolaborasi, 10% untuk strategi dan inovasi, malah hanya 7% digunakan untuk mengembangkan SDM. Persoalan yang ditakutkan menjadi muncul jika kerja administratif seorang manajer dialihkann pada AI, lalu bagaimana peran staf yang biasa menjadi tenaga admistrasi?

Apakah dengan demikian penyerapan tenaga kerja menjadi menurun karena  AI mengambil alih pekerjaan-pekerjaan. Agar AI tidak berdampak pada pengangguran. Para pekerja tersebut harus dibekali kemampuan tambahan agar bisa bersinergi dengan AI, optimalisasikan kemampuan tersebut. Kemampuan apa yang harus di optimalisasi itu? Yaitu kemampuan bersosialisasi, pengembangan manusia, kepelatihan, dan kolaborasi merupakan faktor yang harus dimiliki generasi sekarang, tanpa kemampuan itu akan tergusur perkembangan zaman.

Kesimpulan nya manusia tepatnya generasi milenial tetap menjadi pemenang, dan harus menjadi pemenang. Dan pada akhirnya reformasi digital yang akan kita hadapi bukan untuk dimusuhi atau untuk menyerah di hadapannya. Reformasi digital adalah tantangan yang harus diatasi dengan cara di rangkul dan diajak jalan bersama-sama.

Advertisements

Rangkuman New Digital Economy

Pada kali ini saya akan merangkum pertemuan ke 7.

Dalam Bab ini ada beberapa istilah yang berbeda dalam menggambarkan space berkembang pada era digital ini. Diantaranya ada Sharing Economy, Peer Economy, Konsumsi Kolaborasi, Kolaborasi Ekonomi. 

  • Sharing Economy yaitu merupakan istilah umum dengan berbagai arti, sering digunakan untuk menggambarkan kegiatan ekonomi dan sosial yang melibatkan transaksi online. Awalnya tumbuh dari open source masyarakat untuk merujuk pada peer-to-peer berbagi berbasis akses terhadap barang dan jasa, istilah ini sekarang kadang-kadang digunakan dalam arti yang lebih luas untuk menggambarkan setiap transaksi penjualan yang dilakukan melalui pasar secara online tempat , bahkan orang-orang yang bisnis ke konsumen ( B2C ), daripada peer-to-peer. Untuk alasan ini, perekonomian berbagi jangka telah dikritik sebagai menyesatkan, beberapa berdebat bahwa layanan yang memungkinkan pertukaran peer-to-peer dapat terjadi laba-driven. Namun, banyak komentator menegaskan bahwa istilah ini masih berlaku sebagai alat menggambarkan pasar umumnya lebih demokratisasi, bahkan ketika itu diterapkan pada spektrum yang lebih luas dari layanan.
  • Peer Economy adalah model desentralisasi dimana dua individu berinteraksi untuk membeli atau menjual barang dan jasa secara langsung dengan satu sama lain, tanpa intermediasioleh pihak ketiga, atau tanpa menggunakan sebuah perusahaan bisnis. Pembeli dan penjual bertransaksi langsung dengan satu sama lain.Karena itu, produsen memiliki kedua alat mereka (atau alat-alat produksi) dan produk jadi mereka. Bentuk ekonomi dipandang sebagai alternatif untuk kapitalisme tradisional, dimana pemilik bisnis memiliki alat-alat produksi dan juga produk jadi, mempekerjakan tenaga kerja untuk melaksanakan proses produksi. Dalam kapitalisme, para pekerja tidak memiliki alat-alat produksi, juga tidak memiliki hak apapun untuk produk jadi mereka telah membantu membuat. Sebaliknya, mereka dibayar upah sebagai imbalan atas kerja mereka. Keuntungan dari sistem kapitalis umumnya peningkatan produktivitas dan efisiensi proses produksi melalui P2P sistem, karena bisnis tradisional memiliki keuntungan dari skala ekonomi dan produksi massal teknik.
  • Konsumsi Kolaborasi adalah kelas pengaturan ekonomi di mana peserta mutualize akses ke produk atau jasa, daripada harus kepemilikan individu. Fenomena berasal dari peningkatan keinginan konsumen untuk mengendalikan konsumsi mereka bukan korban pasif dari konsumsi yang berlebihan, dengan layanan baru dan platform yang sering muncul. Model konsumsi kolaboratif digunakan di pasar online seperti eBay serta muncul sektor seperti pinjaman sosial, peer-to-peer akomodasi, pengalaman perjalanan, tugas tugas atau perjalanan menasihati, carsharing atau perjalanan berbagi.
  • Kolaborasi Economy adalah sebuah konsep di era ekonomi baru yang mengintensifkan informasi dan kreativitas dengan mengandalkan ide dan pengetahuan dari sumber daya manusia sebagai faktor produksi yang utama. Konsep ini biasanya akan didukung dengan keberadaan industri kreatif yang menjadi pengejawantahannya. Seiring berjalannya waktu, perkembangan ekonomi sampai pada taraf ekonomi kreatif setelah beberapa waktu sebelumnya, dunia dihadapi dengan konsep ekonomi informasi yang mana informasi menjadi hal yang utama dalam pengembangan ekonomi.

Sharing Economy Di Indonesia

Secara harfiah, sharing economy adalah ekonomi berbagi. Namun terminologi “sharing” nyatanya seringkali memicu salah paham. Istilah sharing bisa diartikan secara umum sebagai kegiatan berbagi secara sosial. Berbagi cerita, pengalaman, dan sebagainya, yang sama sekali tidak memberdayakan masyarakat.

Sementara istilah sharing economy di sini tentu saja melingkupi ranah ekonomi. Sharing economy adalah sikap partisipasi dalam kegiatan ekonomi yang menciptakan value, kemandirian, dan kesejahteraan. partisipasi dari para pemain yang terlibat di ekosistem tersebut berbagi peran masing-masing. Semuanya melakukan peran masing-masing, maka nanti akan terjadi yang namanya bagi hasil. Jadi sharing di sini adalah, bagi peran dan bagi hasil.

Di Indonesia, ada beberapa perusahaan yang sudah memanfaatkan Sharing Economy sebagai salah satu sistem yang dijalankannya sehingga semua orang bisa menikmatinya. Sharing Economy memang menjadi salah satu solusi fundamental untuk keuangan sebuah negara karena berbagai manfaat yang bisa didapatkan diantaranya membuat ekonomi berjalan lebih efisien.

Contoh perusahaan besar yang menjadi sukses karena sharing economy

Go-Jek

Semua sudah tahu si pasukan hijau ini. Go-Jek merupakan perusahaan jasa yang mengandalkan Sharing Economy. Go-Jek juga merupakan perusahaan startup dimana memanfaatkan teknologi serta aplikasi untuk mendapatkan konsumen lebih banyak. Dalam sistem Sharing Economy, Go-Jek memanfaatkan para pelanggan yang ingin membutuhkan alat transportasi yang cepat sampai tujuan dan aman serta tidak terjebak macet. Dari sisi driver Go-Jek, mereka akan memanfaatkan sepeda motor yang ada untuk menghasilkan banyak pendapatan.

Dari sini Go-Jek terus berkembang ke pusat-pusat kota lain di Indonesia. Jadi, tidak hanya di Jakarta melainkan di beberapa kota besar lainnya termasuk Jogjakarta. Inilah konsep Sharing Economy yang ada di Go-Jek dimana membuat konsumen lebih efisien terhadap waktu dan ongkos. Driver Go-Jek juga merasa diuntungkan karena manajemen yang diberikan oleh Go-Jek dengan sepeda motor yang ada mereka bisa mendapatkan banyak pemasukan.

Cloud Computing

Cloud Computing adalah gabungan pemanfaatan teknologi komputer (komputasi) dan pengembangan berbasis Internet (‘awan’). Awan (cloud)adalah metefora dari internet, sebagaimana awan yang sering digambarkan di diagram jaringan komputer. Sebagaimana awan dalam diagram jaringan komputer tersebut, awan (cloud) dalam Cloud Computing juga merupakan abstraksi dari infrastruktur kompleks yang disembunyikannya. Ia adalah suatu metoda komputasi di mana kapabilitas terkait teknologi informasi disajikan sebagai suatu layanan (as a service), sehingga pengguna dapat mengaksesnya lewat Internet (“di dalam awan”)  tanpa mengetahui apa yang ada didalamnya, ahli dengannya, atau memiliki kendali terhadap infrastruktur teknologi yang membantunya.

Menurut sebuah makalah tahun 2008 yang dipublikasi IEEE Internet Computing “Cloud Computing adalah suatu paradigma di mana informasi secara permanen tersimpan di server diinternet dan tersimpan secara sementara di komputer pengguna (client) termasuk di dalamnya adalah desktop, komputer tablet, notebook, komputer tembok, handheld, sensor-sensor, monitor dan lain-lain.” Secara sederhana, Cloud Computing dapat kita bayangkan seperti sebuah jaringan listrik. Apabila kita membutuhkan listrik, apakah kita harus punya pembangkit listrik sendiri? Tentu tidak. Kita tinggal menghubungi penyedia layanan (dalam hal ini, PLN), menyambungkan rumah kita dengan jaringan listrik, dan kita tinggal menikmati layanan tersebut. Pembayaran kita lakukan bulanan sesuai pemakaian.

Untuk itu Cloud computing tidak lama lagi akan menjadi realita, dan ini akan memaksa para IT professional untuk cepat mengadaptasi yang dimaksud dengan teknologi ini. Akibat dari keadaan sosial ekonomi yang terus mengalami revolusi yang sangat cepat sehingga melahirkan cloud computing, dimana teknologi ini dibutuhkan untuk kecepatan dan realibilitas yang lebih dari teknology yang sebelumnya sehingga teknologi ini nantinya akan mencapai pada tingkat investasi dalam term cloud service yang cepat dan mudah.

Manfaat Cloud Computing Serta Penerapan Dalam Kehidupan Sehari – hari

Setelah penjabaran definisi singkat diatas tentu penggunaan teknologi dengan sistem cloud cukup memudahkan pengguna selain dalam hal efisiensi data, juga penghematan biaya. Berikut manfaat manfaat yang dapat dipetik lewat teknologi berbasis sistem cloud.

  1. Semua Data Tersimpan di Server Secara Terpusat

Salah satu keunggulan teknologi cloud adalah memungkinkan pengguna untuk menyimpan data secara terpusat di satu server berdasarkan layanan yang disediakan oleh penyedia layanan Cloud Computing itu sendiri. Selain itu, pengguna juga tak perlu repot repot lagi menyediakan infrastruktur seperti data center, media penyimpanan/storage dll karena semua telah tersedia secara virtual.

       2. Keamanan Data

Keamanan data pengguna dapat disimpan dengan aman lewat server yang disediakan oleh penyedia layanan Cloud Computing seperti jaminan platform teknologi, jaminan ISO, data pribadi, dll.

  1. Fleksibilitas dan Skalabilitas yang Tinggi

Teknologi Cloud menawarkan fleksibilitas dengan kemudahan data akses, kapan dan dimanapun kita berada dengan catatan bahwa pengguna (user) terkoneksi dengan internet. Selain itu, pengguna dapat dengan mudah meningkatkan atau mengurangi kapasitas penyimpanan data tanpa perlu membeli peralatan tambahan seperti hardisk. Bahkan salah satu praktisi IT kenamaan dunia, mendiang Steve Jobs mengatakan bahwa membeli memori fisik untuk menyimpan data seperti hardisk merupakan hal yang percuma jika kita dapat menyimpan nya secara virtual/melalui internet.

  1. Investasi Jangka Panjang

Penghematan biaya akan pembelian inventaris seperti infrastruktur, hardisk, dll akan berkurang dikarenakan pengguna akan dikenakan biaya kompensasi rutin per bulan sesuai dengan paket layanan yang telah disepakati dengan penyedia layanan Cloud Computing. Biaya royalti atas lisensi software juga bisa dikurangi karena semua telah dijalankan lewat komputasi berbasis Cloud. Penerapan Cloud Computing telah dilakukan oleh beberapa perusahaan IT ternama dunia seperti Google lewat aplikasi Google Drive, IBM lewat Blue Cord Initiative, Microsoft melalui sistem operasi nya yang berbasis Cloud Computing, Windows Azure dsb. Di kancah nasional sendiri penerapan teknologi Cloud juga dapat dilihat melalui penggunaan Point of Sale/program kasir. Salah satu perusahaan yang mengembangkan produknya berbasis dengan sistem Cloud adalah DealPOS. Metode kerja Point of Sale (POS) ini adalah dengan mendistribusikan data penjualan toko retail yang telah diinput oleh kasir ke pemilik toko retail melalui internet dimanapun pemilik toko berada.  Selain itu, perusahaan telekomunikasi ternama nasional, Telkom juga turut mengembangkan sistem komputasi berbasis Cloud ini melalui Telkom Cloud dengan program Telkom VPS dan Telkom Collaboration yang diarahkan untuk pelanggan UKM (Usaha Kecil-Menengah).

Contoh Implementasi Aplikasi Menggunakan Cloud Computing

 

hh

Contoh aplikasi berbasis cloud computing adalah salesforce.com, Google Docs. salesforce.com adalah aplikasi Customer Relationship Management (CRM) berbasis software as services, dimana kita bisa mengakses aplikasi bisnis: kontak, produk, sales tracking, dashboard, dll. Google Docs adalah aplikasi word processor, spreadsheet, presentasi semacam Microsoft Office, yang berbasis di server. Terintegrasi dengan Google Mail, file tersimpan dan dapat di proses dari internet.

Persaingan Bisnis Aplikasi Berbasis Cloud

  • OFFICE 365 hingga kini merupakan layanan berbasis cloud paling lengkap yang diciptakan Microsoft. Layanan ini terdiri atas empat produk, yaitu Office, Lync, Share Point, dan Exchange. Office 365 diciptakan untuk menunjang mobilitas, penekanan biaya, fleksibilitas, dan keamanan. Dengan Office 365, pengguna dapat bekerja dari mana saja tanpa perlu hadir di kantor. Ada fasilitas chatting, surat elektronik, dan telepon, yang dapat terkoneksi dengan pekerjaan. Biaya operasional juga bisa dipangkas karena sebuah perusahaan tidak perlu menyewa administrator teknologi informasi dalam jumlah banyak. Semua data disimpan di sistem komputasi awan yang tidak lagi mengandalkan server. Office 365 juga fleksibel karena pengguna bebas mengatur layanan sesuai dengan keinginan dan kebutuhan. Office 365 ditawarkan untuk beragam kategori konsumen, dari pebisnis hingga perorangan. Pebisnis pun terbagi dua, yakni bisnis skala kecil dan skala besar. Perbedaan dua layanan tersebut adalah jumlah perangkat yang dapat mengaksesnya. Satu akun Office 365 Home untuk keluarga dapat digunakan di lima perangkat berbeda. Sedangkan untuk pengguna perorangan, hanya dapat digunakan di dua perangkat. Biaya langganan untuk pengguna keluarga per tahunnya adalah US$ 79,9 atau Rp 925 ribu. Adapun untuk pengguna perorangan per tahunnya bertarif US$ 59,9 atau Rp 694 ribu.
  • GOOGLE DOCS Meski disebut sebagai layanan paling lengkap, Office 365 harus bersaing dengan Google Apps yang menawarkan layanan serupa. Berikut ini perbandingannya. Microsoft menjalankan sinkronisasi melalui Microsoft Azure, Google menjalankannya lewat Google Directory Syncs. Untuk membuat dokumen, pengguna dapat melakukannya lewat Google Docs. “Google Docs menjadi pesaing utama Word yang diciptakan Microsoft,” tulis Tech Republic. Word memang dianggap lebih familiar ketimbang Google Docs. Namun, dari segi fasilitas elektronik, Google unggul lewat Gmail sebagai salah satu layanan paling populer. Fitur lainnya yang juga sudah dikenal adalah Google Talk untuk chatting, Google+ untuk bersosialisasi, dan Hangouts yang dilengkapi dengan video call. Kapasitas penyimpanan berbasis cloud-nya pun lebih besar dibandingkan Office 365, yakni 30 gigabita. “Meski menawarkan beragam fitur, Google Apps sangat mudah digunakan,” ujar Tech Republic. Kemudahan lain adalah biaya berlangganan yang lebih terjangkau. Tidak seperti Microsoft yang memberikan varian pilihan tarif, Google hanya membedakannya berdasarkan periode pemakaian. Biaya langganan per bulannya US$ 5 atau Rp 58 ribu, sedangkan per tahunnya US$ 50 atau Rp 577 ribu.
  • DROPBOX menjadi aplikasi cloud yang biasanya pertama kali dicoba oleh perorangan atau perusahaan karena aplikasi ini tergolong paling ramah. Aplikasi ini hadir bagi semua jenis platform, seperti Android, iOS, Windows, BlackBerry, Linux, dan Symbian. Pencipta Dropbox, Drew Houston, berambisi untuk mengubah kebiasaan orang menyimpan data di USB flash disk. “Lupakan USB,” kata dia. Houston mengklaim, aplikasi buatannya itu aman dari virus, bekerja cepat, dan dapat meminimalkan gangguan bug. Layanan Dropbox dikenal dengan istilah freemium. Artinya, Anda dapat menikmatinya secara gratis hingga kapasitas tertentu. Namun untuk menambahkan kapasitas, akan dikenai tarif tambahan. Sepak terjang aplikasi ini terbilang istimewa. Tidak seperti OneDrive dan Google Drive yang dibentuk oleh raksasa digital, Dropbox berawal dari sebuah aplikasi perintis yang dibentuk oleh sejumlah pemodal, yaitu Sequoia Capital, Accel Partners, dan Amidzad, pada 2009. Meski tidak berada di balik suatu nama besar, pencapaian Dropbox sangat baik. Pada awal 2013, Dropbox dilaporkan berkontribusi sebesar 0,29 persen dari total trafik Internet global. Kini total pengguna Dropbox di seluruh dunia mencapai 294 juta.